Hukum Kewarisan Khuntsa “Permasalahan Kontemporer” (Studi analisis di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya)

Ihsan Mustofa, Muhammad (2018) Hukum Kewarisan Khuntsa “Permasalahan Kontemporer” (Studi analisis di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya). Diploma thesis, University of Darussalam Gontor.

[img] Text
watermak_skripsi_mustofa_fix.pdf

Download (2MB)

Abstract

Khuntsa adalah seseorang yang mempunyai dua alat kelamin pria dan wanita yang menyatu dalam individu yang satu. Para ulama membagi atau menggolongkan khuntsa kepada dua bagian, masing-masing khuntsa musykil dan khuntsa ghairu musykil. Khunsta musykil ialah orang yang mempunyai dua organ kelamin, namun belum bisa diketahui kejelasannya. Sedangkan khuntsa ghairu musykil diartikan sebagai orang yang mempunyai dua organ kelamin dan hanya salah satu kelaminnya saja yang berfungsi. Dengan adanya permasalahan seperti ini, diperlukannya bantuan RSUD Dr. Soetomo untuk memberi kejelasan alat kelamin Khuntsa. Kemudian ilmu Mawaris yang memberi bagian kewarisannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagian waris khuntsa dan menerapkannya di kehidupan masyarakat dengan menggunakan sistem Mawaris, dan para ‘ulama madzhab dengan berasaskan Al-Qur’an, sunnah dan Ijma’, khususnya di dalam bidang Mawaris dengan bantuan dokter bagian kesehatan anak di RSUD Dr. Soetomo surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian Pustaka dengan metode menganalisa yang dilakukan dengan peninjauan Status Khuntsa yang berkaitan dengan kewarisan Khuntsa Muskil. dalam Penelitian ini, Peneliti akan menganalisis data-data dari penejelasan dokter di bagian kesehatan anak, yang dikaitkan dengan Hukum waris islam. Untuk pembahasan yang lebih dalam, penulis mengumpulkan data melalui metode dokumenter, dan kemudian dianalisa menggunakan metode induktif untuk mendapatkan penjelasan dari dokter di bagian kesehatan anak untuk memberi kejelasannya, setelah mengetahuinya, baru bisa memberi bagian waris Khuntsa dengan hokum mawaris. Hasil penelitian ini adalah status seorang khuntsa dapat ditentukan melalui beberapa macam cara yaitu dilakukan para madzhab dan bantuan para dokter khususnya di bagian kesehatan anak. Cara yang dilakukan oleh para madzhab dalam menentukan bagian khuntsa yang pertama adalah dengan melihat dari mana air seni pertama kali keluar atau yang sering dilalui air seni tersebut, yang kedua dengan melihat tanda-tanda kedewasa (baligh). Cara yang dilakukan melalui dokter adalah dengan melihat kromosomnya, dianalisis di sisi genetik, dianatomi fungsinya. Untuk kromosom laki-laki 46 XY dan perempuan 46 XX. Dan pembagian warisannya telah ditentukan oleh para mazdhab, madzhab hanafi khuntsa diberi bagian paling kecil dari perkiraan antara laki-laki dan perempuan, mazdhab syafi’i khuntsa diberi bagian terkecil dari perkiraan laki-laki dan perempuan yang sisa hartanya ditangguhkan sampai status khuntsa sudah jelas, kemudian mazhab maliki yaitu khuntsa diberikan jumlah dari bagian perkiraan laki-laki dan perempuan yang kemudian dibagi setengahnya. Diharapkan untuk pemerintah agar dapat memasukkan peraturan kewarisan khuntsa di dalam Hukum Positif indonesia khususnya dalam Buku II (Hukum Kewarisan) sebagai landasan bagi umat muslim untuk menyelesaikan kasus waris, supaya status seorang khuntsa jelas dan memiliki kejelasan.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BD Speculative Philosophy
Divisions: Fakultas Syariah UNIDA Gontor > Perbandingan Mazhab dan Hukum
Depositing User: Mr Muhammad Taufiq Riza
Date Deposited: 03 Nov 2020 07:14
Last Modified: 03 Nov 2020 07:14
URI: http://repo.unida.gontor.ac.id/id/eprint/443

Actions (login required)

View Item View Item