العقل وعالقته بالعلم عند اإلمام أيب حامد الغزاي رسالة مقدمة للحصول ىلع درجة املاجستري يف قسم العقيدة والفلسفة اإلسالمية

Jamal, Syafa'atul (2019) العقل وعالقته بالعلم عند اإلمام أيب حامد الغزاي رسالة مقدمة للحصول ىلع درجة املاجستري يف قسم العقيدة والفلسفة اإلسالمية. Masters thesis, University of Darussalam Gontor.

[img] Text
Syafa'atul Jamal fix.pdf

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk mengkaji pandangan al-Ghazali terhadap akal dalam hubungannya dengan ilmu. Bagi Imam al-Ghazali, akal adalah istilah yang memiliki sejumlah makna (ma’na musytarak), sehingga karena itu, ia perlu didudukkan secara proposional. Dalam tradisi modern, istilah akal seringkali kurang tepat, dimaknai, didudukkan ataupun diposisikan. Pada satu sisi, ia diagung-agungkan hingga menafikan wahyu, dan bahkan Tuhan, di sisi lainnya, ia diabaikan, ditelantarkan karena sebuah konotasi akan nilai permusuhan, perselisihan, dan alat debat belaka. Ia juga terkadang dianggap berlawanan dengan instrument ilmu lainnya, sehingga karena itu, jika seseorang mengoptimalkan daya akalnya, maka seakan ia tidak mengakui atau anti-pati pada instrumen ilmu lainnya. Penelitian ini menggunakan metode analisis-konten yang terangkum dalam tiga tahapan, pertama; reduksi data yang berkaitan dengan fokus kajian, kedua; klasifikasi data atau pengelompokan, ketiga; tahap display data yaitu meninjau dan mengelompokkan ulang bersadarkan sub-bahasan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah filosofis dengan kerangka teori yang dipinjam dari pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas terhadap akal dalam hubungannya dengan ilmu.Dari penelitian sederhana ini, terdapat sejumlah catatan penting yang perlu untuk ditulis di sini, di antaranya; Bagi al-Ghazali akal dapat dimaknai dengan gharizah, kekuatan jiwa, ilmu, dan cahaya. Ia selalu berkaitan dengan hati, sebab hakikatnya memang selalu bersama dengannya. Dilihat hubungannya dengan ilmu, maka potensi akal memiliki fungsi utama untuk menggapai segala ilmu pengetahuan, yang tidak hanya berhenti pada tataran fisik, tapi juga melingkupi yang metafisik. Lebih detail lagi, al-Ghazali menyebut bahwa potensi akal tidak hanya berkaitan dengan ilmu-ilmu teoritis, tetapi juga melingkupi yang praktis, bukan hanya ilmu-ilmu yang rasional tapi juga ilmu-ilmu syar’iyyah. Poin lain yang juga penting untuk dicatat di sini, bahwa bagi al-Ghazali wujud akal memiliki korelasi dengan instrumen-instrumen lainnya. Korelasinya dengan wahyu seakan tergambar dari metode tafsir dan ta’wil. Adapun dengan panca indera, keduanya saling membutuhkan untuk mengindetifikasi sesuatu secara utuh. Korelasi yang tidak kalah menarik adalah dengan intuisi (hads). Bagi al-Ghazali keduanya dapat mengantarkan seseorang kepada pengetahuan yang utama (asyraf), yaitu intuitif. Sehingga karena itu, akal tidaklah bertentangan dengan instrumen-instrumen ilmu lainya, tetapi justru saling membutuhkan dan saling melengkapi. Sebab memang, pada hakikatnya seluruh instrumen tersebut merupakan sebuah satu-kesatuan untuk mendapatkan ilmu secara sempurna. Al-Attas menyebut hal ini sebagai sebuah metode yang komprehensif, dan dapat disebut dengan metode tauhidi.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BC Logic
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana Magister UNIDA Gontor > Magister Aqidah dan Filsafat Islam
Depositing User: Mr Muhammad Taufiq Riza
Date Deposited: 05 Nov 2020 04:54
Last Modified: 05 Nov 2020 04:54
URI: http://repo.unida.gontor.ac.id/id/eprint/564

Actions (login required)

View Item View Item