Kewalian Menurut Al-Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jili

Bachtiar, Royyan (2018) Kewalian Menurut Al-Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jili. Kewalian Menurut Al-Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jili. pp. 1-96.

[img] Text
Skripsi Royyan_fix.pdf

Download (1MB)

Abstract

Dalam pembahasan kewalian para ulama ahlussunnah sepakat akan keberadaanya, namun berbeda dalam penyebutan istilahnya, misalnya Ibnu ‘Arabi menyebut beberapa istilah lain selain “wali” dalam karanganya, seperti : al-‘arif, al-muhaqqiq, juga insan kamil. Hal ini dikarenakan perbedaan arah kecenderungan perilaku keagamaan dan kecenderungan pada pemikiran. Oleh karena itu, At-Taftazani membaginya kedalam dua kecenderungan tasawuf, yaitu sunni dan falsafi. Yang pertama, kebanyakan mengarah pada teori- teori perilaku atau akhlaq, sedangkan yang kedua, mengarah kepada teori- teori yang rumit, bahkan sampai menggambarkan ikatan antara manusia dan Tuhan-nya. Oleh karena itu, peneliti mengambil salah satu tokoh dari dua kecenderungan tasawuf diatas, yaitu Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jil. Tentunya menarik untuk melihat bagaimana dengan kecenderungan yang berbeda, dapat menghasilkan pemikiran yang berbeda pula, khususnya dalam masalah kewalian. Penelitian ini akan mencari jawaban atas hakikat kewalian menurut Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jili untuk lebih memahami apa sebenarnya hakikat kewalian dalam sudut pandang kedua tokoh tasawuf ini sebagai representasi dari kedua kecenderungan yang berbeda. Dalam penyajian pembahasanya, penulis menggunakan metode deskriptif analisis dan komparatif. Deskriptif analisis dilakukan untuk mendeskripsikan hakikat kewalian Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jili, dan kemudian menganalisa kedua pemikiran tersebut. Dan metode komparatif dilakukan guna menguji persamaan dan perbedaan antara hakikat kewalian menurut Qusyairi dan Abdul Karim Al-Jili. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa wali Allah menurut Qusyairi ialah hamba yang beriman lagi bertaqwa, sedangkan bagi Al-Jili wali Allah ialah insan kamil yaitu Muhammad SAW, dan wali-wali dari kalangan sufi setelahnya merupakan pancaran individu Insan Kamil, Menurut kedua tokoh tersebut derajat kewalian dapat diraih dari hasil upaya hamba itu sendiri dan atas karunia Allah, namun terdapat sedikit perbedaan bahwa derajat kewalian diraih atas karunia Tuhan menurut Al-Jili hanya diperuntukan kepada Insan Kamil, dan secara praktek untuk mendapatkan derajat tersebut menurut Qusyairi ialah dengan beribadah kepada Allah secara terus-menerus tanpa berbuat maksiat, sedangkan Al-Jili berpendapat selain beribadah secara terus menerus, seorang hamba harus mencapai tujuh kedudukan berikut: islam, iman, shalah, ihsan, syahadah, Shiddiqiyah, dan qurbah. Sedangkan bukti seseorang itu wali Allah menurut kedua tokoh tersebut ialah kuatnya hasrat dalam beribadah kepada Allah SWT, Istiqamah, dan tidak berharap kepada makhluk, dan Qusyairi menambahkan turunnya berkah Allah disuatu desa itu juga merupakan pertanda adanya seorang wali, sedangkan Al-Jili menambahkan bahwa wali Allah dapat membedakan mana kalam Allah dan kalam syaitan. Qusyairi memandang karamah bukan sebagai syarat mutlak seorang wali Allah, sedangkan Al-Jily memandang itu merupakan syarat mutlak bagi wali Allah. Dan dari pembahasan yang singkat dan sederhana ini, penulis berharap mudah – mudahan kajian ini menambah khazanah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca seluruhnya.

Item Type: Article
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Mr Muhammad Taufiq Riza
Date Deposited: 05 Nov 2020 02:28
Last Modified: 05 Nov 2020 02:28
URI: http://repo.unida.gontor.ac.id/id/eprint/685

Actions (login required)

View Item View Item